|
Getting your Trinity Audio player ready...
|
WartaDemokrasi,PALEMBANG — Polemik dugaan pemindahan ratusan mahasiswa Jurusan Administrasi Bisnis ke Jurusan Bahasa dan Pariwisata di Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri) memicu kebingungan di kalangan mahasiswa dan orang tua. Namun pihak kampus menegaskan bahwa isu tersebut berakar dari miskomunikasi mengenai pengembangan jurusan, bukan pemindahan mahasiswa secara sepihak.
Wakil Direktur I Bidang Kemahasiswaan Polsri, Dr. Yusri, bersama Ketua Senat Dr. Dicky Saprianto, menegaskan hal itu saat memberikan keterangan resmi di kampus, Jumat (5/12).
“Kami menyesalkan berita itu terbit sebelum kami menyampaikan penjelasan. Kemarin kami rapat, dan memang berencana menggelar jumpa pers hari ini. Tapi beritanya sudah muncul duluan,” ujar Yusri didampingi Dicky.
Menurut Yusri, Polsri saat ini tengah melakukan pengembangan struktur akademik. Jumlah jurusan yang sebelumnya sembilan kini bertambah menjadi sepuluh. Langkah ini, kata dia, dilakukan melalui kajian panjang dan izin resmi berbagai kementerian, termasuk Kementerian Pendidikan, Kemenkumham, dan Kemenpan RB.
“Ini bukan pemindahan mahasiswa. Ini pengembangan jurusan yang sudah sesuai prosedur. Semua proses telah kami sosialisasikan,” tegasnya.
Menanggapi kerisauan mahasiswa semester akhir yang disebut “dipindahkan” ke Jurusan Bahasa dan Pariwisata, Yusri menjelaskan bahwa pengelompokan administrasi tidak mengubah substansi akademik.
“Untuk mahasiswa semester 7 dan 8, mereka tetap pada jalurnya. Mata kuliahnya sama, jurusannya masih satu rumpun. Hanya satu semester lagi mereka wisuda,” katanya.
Hal serupa berlaku untuk mahasiswa semester 3, 5, dan 7 yang sempat dikabarkan dialihkan.
Ketua Senat Polsri, Dr. Dicky Saprianto, menambahkan bahwa kekhawatiran mahasiswa mengenai dampak terhadap ijazah dan peluang kerja tidak beralasan.
“Nomenklatur saat melamar kerja berpatokan pada program studi, bukan nama jurusan. Prodi tetap sama, mata kuliah tetap, tidak ada yang dirugikan,” ujarnya.
Saat ini Polsri memiliki 11.800 mahasiswa, 10 jurusan, dan 41 program studi.
Isu pemindahan mahasiswa ini sebelumnya membuat heboh karena dikabarkan menyangkut sekitar 350 mahasiswa dari empat angkatan. Beberapa orang tua bahkan mengaku bingung dan takut melayangkan protes karena khawatir berdampak pada anak mereka.
Namun Polsri menilai kegaduhan tersebut muncul karena informasi yang belum tersampaikan secara lengkap.
“Kami sangat terbuka untuk berdiskusi jika ada kendala. Selama ini tidak ada masalah, jadi kami kaget ketika muncul pemberitaan seperti itu,” tutur Yusri.
Pihak kampus berjanji akan memperbaiki pola komunikasi agar pengembangan akademik tidak kembali menimbulkan kesalahpahaman.
“Ke depan, kami akan lebih cepat menyampaikan informasi resmi agar tidak terjadi interpretasi yang berbeda,” tambah Dicky.
Dengan klarifikasi ini, Polsri berharap polemik segera mereda dan mahasiswa bisa kembali fokus pada proses belajar mengajar.(H Rizal).













