Banner Redaksi Warta Demokrasi

👆 KLIK BANNER UNTUK LIHAT REDAKSI 👆

=========================================
Biro Musi Rawas Utara
========================================= =========================================

Air Mulai Surut, Jembatan Gantung Tanjung Beringin Putus Total: 80 Persen Ekonomi Warga Terancam Lumpuh

Getting your Trinity Audio player ready...

WARTADEMOKRASI, MURATARA  – Kondisi banjir bandang terdahsyat dalam sejarah peradaban Desa Tanjung Beringin kini mulai menunjukkan tanda-tanda surut, namun menyisakan kerusakan infrastruktur yang fatal.

Debit air yang sempat menenggelamkan pemukiman terpantau menurun secara bertahap atau “berguyur” tepat pasca-waktu Isya (Ba’da Isya) pada Kamis malam.

Masyarakat Desa Tanjung Beringin kini mulai merasakan ketenangan setelah melewati fase kritis yang mencekam sejak waktu Zuhur menjelang  Asar .

 

BACA JUGA: Melampaui Sejarah Peradaban: Banjir Bandang Terdahsyat Terjang Muratara, Nopri Macan Tutul Bisikkan Syahadat di Tanah Kelahiran Istri

 

Nopri Macan Tutul melaporkan penurunan debit air disalah satu titik bencana yang sekaligus membuktikan filosofi “garis batas waktu” yang diyakini warga setempat sebagai jawaban atas doa dan kepasrahan mereka di tengah kegelapan malam.

Namun, di balik surutnya air, bencana baru muncul bagi keberlangsungan hidup warga desa. Banjir bandang purba telah menghancurkan Jembatan Tanjung Beringin hingga putus total.

Pantauan langsung di lokasi pada dinihari, pukul 02.15 Jumat (8 Mei 2026) menunjukkan garis polisi (police line) kuning kini telah membentang di pangkal jembatan untuk menutup akses secara resmi karena kondisi puing yang sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa.

 

BACA JUGA: Sejarah Kelam 2026 Banjir Bandang Terbesar Sepanjang Masa Terjang Tanjung Beringin Muratara

 

Terputusnya jembatan ini berpotensi melumpuhkan sumber penghidupan mayoritas masyarakat. Meskipun hanya terdapat sekitar 10 Kepala Keluarga (KK) yang bermukim permanen di seberang sungai, faktanya lebih dari 80 persen lahan perkebunan karet dan sawit milik warga berada di wilayah tersebut. Warga dipastikan tidak dapat memanen hasil kebun akibat terputusnya satu-satunya akses jalan penghubung.

Nopri Macan Tutul menegaskan bahwa situasi ini merupakan “Bencana Kedua” bagi warga desa Tanjung Beringin pasca-banjir. Pemerintah Kabupaten Musi Rawas Utara didesak untuk segera membangun jembatan darurat atau menyediakan armada penyeberangan guna menyelamatkan ekonomi rakyat.

“Penanganan pemerintah diharapkan tidak hanya berhenti pada pemberian sembako, melainkan harus menyentuh pemulihan infrastruktur ekonomi yang bersifat mendesak,” ujarnya

(Laporan Real-Time & Dokumentasi Visual: Nopri Macan Tutul)