Banner Redaksi Warta Demokrasi

👆 KLIK BANNER UNTUK LIHAT REDAKSI 👆

=========================================
Biro Musi Rawas Utara
========================================= =========================================

Melampaui Sejarah Peradaban: Banjir Bandang Terdahsyat Terjang Muratara, Nopri Macan Tutul Bisikkan Syahadat di Tanah Kelahiran Istri

LAPORAN KHUSUS BA'DA ASHAR: BENCANA PURBA DI TANJUNG BERINGIN (Kamis 7 Mei 2026)
Getting your Trinity Audio player ready...

WARTADEMOKRASI, MURATARA (7 Mei 2026) – Fenomena bencana alam banjir bandang dengan volume air terdahsyat sepanjang sejarah dilaporkan tengah menerjang Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara). Hingga laporan ini ditayangkan pasca-waktu Asar, debit air terpantau tetap merangkak naik dan mulai menenggelamkan pemukiman warga secara meluas.

Peristiwa ini tercatat sebagai fenomena alam terbesar sejak bumi Tanjung Beringin terbentuk dan dihuni oleh manusia. Situasi ini melampaui segala catatan sejarah desa, di mana kekuatan air sanggup menembus batas-batas pemukiman yang selama ini dianggap aman.

Nopriansyah (Nopri), pemimpin komunitas “Macan Tutul”, memberikan kesaksian filosofis yang mencekam dari lokasi kejadian. Menurutnya, pergerakan air saat ini sedang berada pada titik kritis yang menentukan.

 

BACA JUGA: Sejarah Kelam 2026 Banjir Bandang Terbesar Sepanjang Masa Terjang Tanjung Beringin Muratara

 

“Filosofi saya jelas; jika lepas waktu Asar air tetap naik, berarti kita menunggu waktu Magrib. Jika Magrib masih naik, kita menunggu Isya. Namun, jika hingga Subuh tidak juga reda, maka kita sedang menunggu amukan bumi dan langit menyatu. Ketika bumi terbelah, itulah kiamat kecil yang nyata,” tegas Nopri dengan nada penuh peringatan.

Kedahsyatan banjir kali ini dibenarkan oleh Nek Cina (70), warga paling senior di desa tersebut. Sepanjang tujuh dekade usianya hidup di Desa Tanjung Beringin, ia mengakui belum pernah melihat air memiliki kekuatan sedahsyat ini hingga masuk ke dalam rumah-rumah warga secara masif.

Di tengah situasi yang mengarah pada ancaman kiamat kecil ini, terekam momen sakral yang menyentuh hati. Nopri tampak tertunduk lesu dan membisikkan kalimat Syahadat ke perut istrinya—yang merupakan putri asli tanah kelahiran Tanjung Beringin—sembari meneteskan air mata sebagai bentuk penyerahan diri total kepada Sang Pencipta.

Dalam kepasrahan tersebut, Nopri memanjatkan doa khusus bagi anaknya, Tritunggal. Ia meyakini bahwa jika kekuatan spiritual Tritunggal mampu menyatu dengan energi alam, maka gejolak air yang kian liar ini dapat diredam. Harapan spiritual ini menjadi tumpuan terakhir warga di tengah amukan alam yang tak terbendung oleh logika manusia.

Seluruh masyarakat Sumatera Selatan dan Indonesia diharapkan bersatu dalam doa, memohon agar air segera menyurut sebelum malam tiba, demi keselamatan nyawa dan tanah kelahiran keluarga besar di Desa Tanjung Beringin.

(Laporan Real-Time:  Nopri Macan Tutul)

Tinggalkan Balasan