|
Getting your Trinity Audio player ready...
|
MEDIA BBC.co.id, PALEMBANG – Ancaman narkoba di Sumatera Selatan belum mereda. Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumsel mengungkapkan bahwa hingga akhir 2025, sedikitnya 15 kawasan di Sumsel masuk kategori “bahaya” narkoba, dengan ribuan wilayah lain berada pada level waspada dan siaga.
Fakta tersebut terungkap dalam rilis capaian kinerja akhir tahun BNNP Sumsel yang dipimpin langsung Kepala BNNP Sumsel Brigjen Pol Hisar Siallagan SIK, Selasa (23/12/2025), di Palembang.
“Total peta kawasan rawan narkoba di Sumsel mencapai 3.241 wilayah. Ini menunjukkan persoalan narkoba bukan isu kecil, tapi sudah menjadi ancaman sosial yang masif,” kata Hisar.
Dari ribuan kawasan tersebut, BNNP Sumsel memetakan:
- 15 kawasan bahaya
- 442 kawasan waspada
- 1.719 kawasan siaga
- 1.095 kawasan aman
Wilayah dengan status bahaya tersebar di sejumlah kabupaten strategis seperti OKI, PALI, Banyuasin, OKU Timur, sementara OKU Selatan belum masuk zona bahaya namun memiliki 41 kawasan waspada.
“Peta ini menjadi dasar intervensi negara. Data ini juga digunakan Polri dan instansi lain dalam operasi penegakan hukum,” tegas Hisar.
Di tengah gencarnya peredaran narkotika, BNNP Sumsel mengklaim berhasil melampaui target pengungkapan kasus sepanjang 2025.
Bidang Pemberantasan dan Intelijen mencatat:
- 37 berkas perkara (target 35 berkas / capaian 102,7%)
- 33 berkas sudah P21
- 4 berkas masih penyelidikan
Barang bukti yang diamankan terbilang besar:
- Sabu: 25.936 gram (lebih dari 25 kg)
- Ekstasi: 7.177 butir
- Ganja kering: 5.164 gram
- Barang non-narkotika: 52 HP, 5 mobil, 10 motor
Sebanyak 37 tersangka diamankan, terdiri dari 35 laki-laki dan 2 perempuan, sementara 19 orang lainnya masih buron (DPO).
“Ini menunjukkan jaringan masih aktif. Penindakan harus berlapis, tidak bisa hanya mengandalkan penangkapan,” ujar Hisar.
Tak hanya represif, BNNP Sumsel menggeser strategi dengan memperkuat pencegahan berbasis keluarga, desa, dan pendidikan.
Sepanjang 2025, BNNP Sumsel:
- Membentuk 580 relawan anti narkoba di 10 desa per tahun
- Mengembangkan Desa Bersinar di Kecamatan Lais, Muba
- Melatih 40 keluarga dalam program ketahanan keluarga anti narkoba
- Melaksanakan 159 kali penyuluhan P4GN dengan total audiens 42.140 orang
Di sektor pendidikan, BNNP Sumsel mendorong Implementasi IKAN (Integrasi Kurikulum Anti Narkoba), yakni memasukkan materi anti narkoba ke dalam mata pelajaran formal.
“BNN Pusat sudah MoU dengan Kemendikdasmen. Ini langkah jangka panjang untuk membentengi generasi muda,” jelas Hisar.
BNNP Sumsel juga menjalankan pendekatan sosial-ekonomi di kawasan rawan narkoba, antara lain:
- Pelatihan life skill aquaponik dan hidroponik
- Budidaya ikan lele berbasis bioflok
- Penyuluhan pendirian koperasi warga binaan
Program ini dilaksanakan di wilayah rawan seperti Kelurahan Sukarami, sebagai upaya memutus mata rantai ekonomi narkoba.
Sebagai langkah pengawasan, BNNP Sumsel juga melakukan:
- 25 kegiatan tes urine di instansi pemerintah, perusahaan, sekolah, dan ormas
- Total peserta 2.508 orang
- Pemetaan wilayah rawan prekursor narkotika
Rilis akhir tahun ini memperlihatkan satu pesan tegas: narkoba di Sumsel bukan sekadar kejahatan, melainkan ancaman serius terhadap masa depan generasi dan stabilitas sosial.
“Tanpa keterlibatan masyarakat, keluarga, dan institusi pendidikan, perang melawan narkoba tidak akan pernah selesai,” pungkas Hisar.(H Rizal).













