Kementerian Kebudayaan Luncurkan Platform Digital Read Indonesia, Dorong Sastra Nasional Go International

Getting your Trinity Audio player ready...

Read Indonesia dihadirkan sebagai platform digital terpadu yang memuat informasi, publikasi, serta dokumentasi kegiatan literasi dan sastra Indonesia. Dalam kesempatan yang sama, Kementerian Kebudayaan juga meluncurkan Buku Keramik Cina, Buku Wayang, serta Majalah Kultur Volume 1, yang menarasikan kerja kebudayaan sebagai bagian dari kerja peradaban.

Acara peluncuran dihadiri langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon, jajaran pejabat kementerian, serta pegiat literasi dan kebudayaan. Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, laporan Direktur Jenderal DPKSK, pemutaran video fitur Read Indonesia, sambutan Menteri Kebudayaan, peluncuran platform dan buku, sesi diskusi, hingga penutupan dan foto bersama.

Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa Read Indonesia bukan sekadar proyek teknologi, melainkan wujud tanggung jawab negara dalam memajukan kebudayaan nasional.
“Peluncuran Read Indonesia adalah penanda nyata kehadiran negara yang lebih sadar dan bertanggung jawab dalam mengelola promosi sastra nasional. Platform ini menjadi fondasi awal sistem promosi sastra Indonesia yang berkesinambungan,” ujarnya.

Fadli Zon menambahkan, sastra merupakan salah satu dari 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) yang memiliki peran penting dalam membentuk identitas bangsa. Melalui karya sastra, nilai-nilai luhur, sejarah, dan perspektif Indonesia dapat dikenal dunia.
“Sastra adalah cermin identitas kita di tengah peradaban global. Negara wajib menjamin ruang bagi masyarakat untuk memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budaya melalui promosi yang sistematis,” jelasnya.

Peluncuran Read Indonesia juga menandai langkah penguatan koordinasi antarlembaga. Fadli Zon menyampaikan rencana integrasi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa ke dalam struktur Kementerian Kebudayaan, tepatnya di bawah Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, guna memperkuat sinergi pengelolaan bahasa dan sastra sebagai aset nasional.

Sementara itu, Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti menyampaikan bahwa Read Indonesia dirancang sebagai jendela dunia bagi sastra Indonesia.
“Platform ini menjadi referensi utama bagi komunitas internasional untuk mengakses karya sastra dan perkembangan budaya Indonesia. Kurasi awal melibatkan panel ahli sastra nasional, sekaligus membuka ruang kolaborasi lintas sektor,” ungkapnya.

Secara lebih luas, Read Indonesia mencerminkan evolusi kebijakan kebudayaan nasional di era digital. Platform ini tidak hanya menyediakan akses terhadap karya sastra klasik hingga kontemporer, tetapi juga memfasilitasi terjemahan, diskusi virtual, serta kemitraan dengan institusi luar negeri. Upaya ini sejalan dengan praktik global dalam memanfaatkan sastra sebagai kekuatan lunak (soft power).

Para pengamat kebudayaan menyambut positif peluncuran Read Indonesia, sembari menekankan pentingnya pendanaan berkelanjutan dan perlindungan hak cipta digital. Platform ini diharapkan menjadi katalis bagi penulis muda Indonesia untuk menembus pasar global serta memperkaya diskursus kebudayaan Indonesia di tingkat internasional.

Peluncuran Read Indonesia menjadi awal dari langkah panjang menjadikan sastra Indonesia sebagai kekuatan budaya yang diperhitungkan di dunia.

(Kelana 003)

Tinggalkan Balasan