PALI: Antara Komitmen Perjuangan dan Sinyal ‘Pendinginan’ di Bawah Meja

Nopri Macan Tutul Akan Gelar Aksi Unjuk Rasa
Vokal: Panglima Macan Tutul saat menyuarakan orasi perlawanan terhadap dugaan praktik 'tangan besi' oknum pejabat di PALI. Foto ini diambil saat koordinasi lapangan resmi organisasi. (Dok. Macan Tutul)
Getting your Trinity Audio player ready...

WARTADEMOKRASI , PALEMBANG – Kasus dugaan intimidasi terstruktur terhadap jurnalis di Kabupaten PALI melalui kebijakan mutasi guru di SDN 5 Tanah Abang kini memasuki babak baru yang penuh teka-teki. Di tengah gelombang desakan publik dan rencana aksi massa yang kian memanas, muncul sinyal kuat adanya upaya “pendinginan” kasus secara sepihak.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat indikasi adanya lobi-lobi atau pendekatan persuasif yang membuat pihak-pihak terkait mendadak menarik diri dari garis perjuangan. Hal ini terlihat dari adanya instruksi untuk menghentikan publikasi berita dengan dalih bahwa persoalan mutasi tersebut “bisa diurus sendiri” secara kekeluargaan..

BACA JUGA:  Dugaan “Pmbungkaman” Jurnalis di PALI: Mutasi Guru SDN 5 Tanah Abang Mencuat Sebagai Bentuk Intimidasi Terstruktur?

Menanggapi fenomena “lempam“-nya komitmen di tengah jalan ini, Ketua Komunitas Macan Tutul Sumatera Selatan sekaligus Pimpinan Biro Warta Demokrasi,  Nopri, angkat bicara dengan nada tegas.

Perlu dicatat oleh semua pihak, Macan Tutul bergerak bukan atas dasar kepentingan domestik atau sekadar urusan pindah tugas individu. Kami bergerak karena adanya dugaan pelanggaran marwah profesi jurnalis yang coba dibungkam dengan instrumen kekuasaan,” tegas Nopri Maca Tutul. , Sabtu (14/3/26)

Lebih lanjut, Nopri menekankan bahwa integritas sebuah lembaga kontrol sosial tidak bisa diukur dengan lobi-lobi di bawah meja. Jika sebuah kasus sudah bergulir ke ranah publik, maka transparansi adalah harga mati.

Jika ada pihak yang awalnya gagah berani meminta keadilan lalu tiba-tiba memilih ‘tiarap’ karena alasan yang tidak transparan, itu adalah hak personal mereka. Namun, bagi kami di Macan Tutul dan Warta Demokrasi, gas yang sudah dipijak tidak akan pernah ditarik mundur hanya karena adanya upaya peredaman berita. Kami tidak sedang beretorika, kami sedang menjaga integritas profesi agar tidak dianggap remeh oleh oknum-oknum penguasa,”* tambahnya.

Publik kini bertanya-tanya, apakah perdamaian yang diupayakan tersebut murni merupakan keadilan bagi korban, ataukah hanya sekadar “jebakan” untuk meredam kritik tajam yang selama ini menghujam kebijakan di PALI?

Warta Demokrasi akan terus memantau perkembangan ini. Meski narasi mulai coba diredam oleh pihak-pihak tertentu, bukti-bukti dugaan intimidasi tetap tersimpan rapat dalam arsip investigasi kami sebagai “bom waktu” jika keadilan yang dijanjikan hanyalah isapan jempol belaka. (Pimpinan Redaksi – Verawati)

Tinggalkan Balasan