|
Getting your Trinity Audio player ready...
|
WARTADEMORASI, PALEMBANG – Di jalanan, namanya menggema lewat pengeras suara. Di jagat maya, sosoknya viral melalui aksi-aksi unjuk rasa yang menyuarakan jeritan rakyat. Namun, di balik seragam dan simbol Macan Tutul yang ia pimpin, terdapat sisi lain yang jarang tersentuh publik: sebuah ketajaman intuisi yang sering kali melampaui logika manusia awam.
Sang Panglima di Mimbar Jalanan
Setiap kali turun ke lapangan, Nopri tampil dengan gaya yang ikonik. Mengenakan peci hitam dengan garis loreng khas Macan Tutul, jas berwarna oranye atau hitam yang gagah, serta sarung tangan dan kacamata hitam yang menambah kesan misterius namun tegas. Di tangannya, sebuah tongkat komando tergenggam erat—bukan sekadar aksesori, melainkan simbol kepemimpinan yang ia emban.
Sebelum orasi memanas, Nopri selalu menunjukkan kerendahan hati dan kedewasaan berpolitik. Ia menyapa rekan-rekan jurnalis, sesama aktivis, hingga massa rakyat dengan penuh takzim. Tak lupa, penghormatan setinggi-tingginya ia sampaikan kepada institusi Polri yang mengawal aksi, serta kepada pihak institusi maupun dinas-dinas terkait yang menjadi sasaran aspirasi.
Sebelum suara lantangnya membelah udara, ia selalu melafalkan doa:
“Allahumma Arinal haqqo haqqo warzuqna tiba’ah, wa Arinal batila batila warzuqna-jtinabah.”
Orasi Tanpa Gentar dan Dorongan Intuisi.
Bukti visual klik di bawah ini:
Ketika suara hati memanggil, raga tak gentar menerjang api
Demi kebenaran “terjadilah apa yang akan terjadi” kobaran api menjadi simbol perjuangan tanpa gentar
SCW Desak Kejaksaan Agung Usut Tuntas Dugaan Korupsi Perbankan di Bank Sumsel Babel
Begitu doa terucap, segalanya berubah. Nopri masuk ke dalam momen penyampaian pendapat di muka umum secara lantang dan tanpa rasa takut sedikit pun. Di saat itulah, intuisinya bekerja dengan sangat tajam. Apa yang ia katakan sering kali mengalir deras seolah-olah didorong oleh kekuatan luar biasa dari dalam dirinya—sebuah getaran nurani yang jujur dan tak bisa dibendung.

Menembus Kabut Kepalsuan
Salah satu fragmen yang masih membekas adalah saat ia berada di bumi Musi Rawas Utara (Muratara). Di tengah kerumunan orang yang panik melihat seseorang “kesurupan”, batin Nopri justru menangkap frekuensi yang berbeda. Tanpa ragu, ia membongkar tabir kepalsuan itu. Baginya, Macan Tutul tidak bisa dibohongi oleh musang yang menyamar.
Firasat dan Takdir yang Tak Terelakkan.
Ketajaman ini pula yang membawanya pada momen-momen sunyi. Mulai dari firasat tentang peristiwa yang akan datang hingga tanda-tanda alam. Nopri menyadari, meski ia mampu “melihat” dan melalui “Lida Asin” yang sering menjadi kenyataan, pada akhirnya semua tetap bermuara pada garis tangan Sang Ilahi.
Garis Besar Haluan Macan Tutul.
Kini, filosofi tersebut ia tuangkan ke dalam Garis Besar Haluan Macan Tutul. Ini adalah wadah bagi mereka yang ingin bergerak dengan kecerdasan insting dan kejujuran nurani. Macan Tutul mengajarkan untuk tetap tenang saat mengamati, namun tajam saat mengeksekusi keadilan. Di balik sosoknya yang disegani lawan, ia tetaplah seorang hamba yang bersyukur dan sosok ayah yang penuh kasih.
—————– —————- —————-
[English Version]
The Leopard’s Inner Eye: Behind the Sharp Intuition and Destined Path of Nopri “Macan Tutul”
WARTADEMORASI , PALEMBANG – On the streets, his name echoes through megaphones. Yet, behind the uniform lies a side rarely seen: a razor-sharp intuition that transcends ordinary logic.
The Commander at the Podium
Nopri appears with an iconic style: a black songkok with camouflage stripes, a bold blazer, and a command stick in hand. He begins with profound respect for the press, fellow activists, the National Police (Polri), and the relevant government agencies. Before speaking, he recites:
“Allahumma Arinal haqqo haqqo warzuqna tiba’ah, wa Arinal batila batila warzuqna-jtinabah.”
Fearless Oration and Intuition
Nopri speaks with unwavering courage. At that moment, his intuition works with profound precision. His words flow intensely, driven by an unstoppable vibration of a sincere conscience.
Piercing the Deception
In Musi Rawas Utara (Muratara), he once exposed a fake possession amidst a panicked crowd. For him, a “Leopard” cannot be fooled by a “fox in disguise.”
Philosophy and Destiny
This sharpness leads to quiet premonitions and a “Salty Tongue” (prophetic words that become reality). Yet, he remains humble, knowing all ends in Divine fate. Today, he leads through the Grand Guidelines of Macan Tutul—moving with instinctive intelligence and honest conscience. (Rizka)













