|
Getting your Trinity Audio player ready...
|
WartaDemokrasi, PALEMBANG — Di bawah temaram lampu resto Pindang Yuk Pen Kampus, Jumat (27/2/2026), sebuah pemandangan hangat tersaji. Tak ada sekat antara senior dan junior; semua duduk melingkar dalam semangat yang sama: menjadikan Ramadan sebagai momentum “pulang” ke akar perjuangan.
Pertemuan bertajuk “Sumsel Bergerak: Solid, Kritis, dan Berintegritas” ini membuktikan bahwa gerakan masyarakat sipil di Sumatera Selatan masih bernapas panjang. Sejumlah tokoh lintas generasi tampak hadir, mulai dari Ir. Suparman Roman, Sukma Hidayat, hingga barisan aktivis perempuan seperti Widya Astuti dan Rizdiana.
Merajut Kembali yang Terpisah. Ketua Pelaksana, Ramogers, SH, mengungkapkan bahwa acara ini adalah upaya melawan fragmentasi atau perpecahan di tubuh aktivis. “Ramadan adalah pemersatu. Kita tidak hanya berbagi makanan, tapi berbagi visi. Kita membangun kembali kepercayaan (trust) agar gerakan ini tetap tegak lurus untuk rakyat,” ujarnya dengan nada optimis.
Senada dengan itu, Dikky Lubay menekankan pentingnya empati sosial di tengah dinamika politik. Ia mengingatkan bahwa aktivis tidak boleh berjalan sendiri-sendiri jika ingin suaranya benar-benar didengar oleh pembuat kebijakan.
BACA JUGA: SCW Desak KPK ! Segerah Usut Dugaan Korupsi Gubernur Sumsel Terkait Beberapa Isu
Sinergi: Pijakan Senior, Energi Anak Muda
Ketua Umum LAAGI, Sukma Hidayat, melihat pertemuan ini sebagai estafet kepemimpinan yang krusial. “Pengalaman senior adalah pijakan kami, sementara energi anak muda adalah mesin penggeraknya. Sinergi ini wajib agar gerakan tetap relevan,” tuturnya.
Kemandirian gerakan juga menjadi poin utama yang ditegaskan oleh Chandra Anugrah dari DPW Kawali Sumsel. Ia mewanti-wanti agar gerakan ini tetap menjaga jarak yang sehat dari kepentingan politik praktis. “Suara kita harus murni titipan rakyat, bukan pesanan kelompok tertentu,” tegasnya.
Membuka Sekat dengan Pemerintah Diskusi yang dipandu oleh Azuzet Jack dan Ismail Fahmi ini tidak hanya bicara soal kritik, tapi juga tawaran solusi. Ir. Suparman Roman menangkap adanya kegelisahan tentang jarak komunikasi yang sering tercipta antara aktivis dan pemerintah daerah.
“Kita ingin merajut kebersamaan. Ada gagasan agar aktivis bisa bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Sumsel melalui kritik konstruktif dan program strategis. Kita ingin sekat komunikasi itu dibuka, agar aktivis menjadi energi positif bagi pembangunan Sumsel yang berkeadilan,” jelas Suparman.
BACA JUGA: Direktur Politeknik Sriwijaya Diduga Gelapkan Uang Proyek! 100 Massa KARB Akan Turun Aksi
Sebagai tindak lanjut, forum ini berencana segera menyusun konsep kerja sama dan daftar aspirasi yang akan ditawarkan kepada Pemerintah Provinsi Sumsel dalam waktu dekat.
Meski beberapa tokoh seperti Firdaus Hasbullah dan Dr. H. Askolani Jasi berhalangan hadir karena tugas publik, semangat solidaritas tetap terasa kuat hingga acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Ustadz Mursidi.
“Suara kami mungkin berbeda-beda, tapi tujuan kami satu: Keadilan untuk Sumsel,” tutup Azuzet Jack dengan penuh semangat.
Pewarta: Azu
Editor: Nopri MT













