|
Getting your Trinity Audio player ready...
|
WARTADEMOKRASI, PALEMBANG – Kota Palembang kembali berduka. Aksi “kucing-kucingan” antara kelompok pemuda dengan aparat kepolisian berujung maut. R.A. Gusti Rangga (20), seorang pelajar asal Jalan Sultan Agung, Kelurahan 1 Ilir, harus meregang nyawa setelah terlibat bentrok berdarah di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Ilir Timur II, pada Sabtu (7/3/2026) dini hari.
Luka Tusuk Mematikan di Depan Kantor Bulog
Korban ditemukan terkapar bersimbah darah di aspal depan Kantor Bulog dengan dua luka tusuk serius di perut bagian kiri atas. Rekan-rekan korban sempat melarikan Gusti Rangga ke RSUP Dr. Mohammad Hoesin (RSMH), namun takdir berkata lain; nyawa pemuda tersebut tidak tertolong akibat pendarahan hebat.
Kronologi: Petaka Setelah Polisi Meninggalkan Lokasi
Berdasarkan investigasi di lapangan dan keterangan saksi mata berinisial CY (21) serta MRP (20), peristiwa ini menyimpan fakta yang memprihatinkan. Sekira pukul 03.00 WIB, kelompok pemuda dari daerah 1 Ilir mendatangi lokasi untuk menemui kelompok lawan yang diduga gabungan dari kelompok Boom Baru.
Ironisnya, maut justru menjemput saat situasi dianggap sudah “terkendali”.
“Awalnya petugas dari Polsek Ilir Timur II sudah datang dan membubarkan massa. Namun, setelah polisi pergi, kedua kelompok kembali bertemu dan tawuran jilid kedua pun pecah,” ujar saksi mata dengan nada getir.
Massa Kocar-Kacir Saat Petugas Kembali
Ketegasan aparat diuji saat petugas kepolisian kembali ke lokasi untuk kedua kalinya guna membubarkan massa yang makin beringas. Di tengah kepanikan massa yang kocar-kacir menyelamatkan diri, rekan-rekan korban menemukan Gusti Rangga sudah dalam kondisi kritis tak berdaya di atas aspal.
Menanti Respon Tegas Kepolisian
Hingga berita ini diturunkan, publik menanti pernyataan resmi dari pihak Polrestabes Palembang maupun Polsek Ilir Timur II terkait insiden berdarah ini. Kejadian ini menjadi alarm keras bagi sistem patroli keamanan di titik-titik rawan, agar pembubaran massa tidak sekadar menjadi formalitas yang menyisakan celah bagi tragedi susulan.
Pewarta: (Hadi S)













